Sumber: http://eltelu.blogspot.com/2012/09/cara-membuat-tab-menu-horizontal.html#ixzz2EFzkguOe

Jumat, 21 September 2012

Makalah Pengelolaan Kelas yang Ideal dalam Pemberian Layanan BK


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Sehubungan dengan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing dalam mata kuliah Pengelolaan Kelas untuk menyusun sebuah makalah tentang Pengelolaan Kelas yang Ideal dalam Pemberian Layanan Bimbingan dan Konseing. Maka dengan rendah hati penulis memberanikan diri untuk menyusun makalah ini, dengan didasari tanggung jawab moral penulis sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Karena disadari dalam memberikan layanan BK tidak selamanya guru pembimbing dapat mengelola kelas dengan efektif sehingg tujuan pemberian layanan tidak tercapai dengan baik. Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebih berkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbingan menjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut. Maka dibutuhkannya pemahaman tentang pengelolaan kelas yang ideal.

B.     Batasan Masalah
Dari sekian permasalahan yang ada tidak mungkin penulis dapat membahasnya secara keseluruhan, karena mengingat kemampuan yang ada baik intelektual, biaya dan waktu yang dimiliki penulis sangat terbatas. Maka penulis perlu memberikan batasan-batasan masalah. Pembatasan masalah diperlukan untuk memperjelas permasalahan yang ingin dipecahkan.
Oleh karena itu, penulis memberikan batasan : Pengelolaan kelas yang ideal dalam pemberian layanan BK bagi peserta layanan.

C.     Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan pedoman dan acuan bagi mahasiswa dalam mempelajari tentang pengelolaan kelas yang ideal lebih dalam. Sehingga, mereka mampu memahami bagaimana cara agar siswa dapat mengikuti layanan dan memahami isi layanan serta jika ada masalah dalam kelas, guru pembimbing dapat segera mengatasinya.

D.    Manfaat
Dari segenap pembahasan yang telah dipaparkan, harapan yang ingin diwujudkan dalam makalah ini tercakup secara teoretis dan secara praktis yang meliputi:
1.      Secara teoretis
Makalah ini diharapkan berguna untuk memberikan sumbangan terhadap usaha peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan dalam bidang pengelolaan kelas.
2.      Secara praktis
Tujuan praktis dari makalah ini adalah: meningkatkan pengetahuan mahasiswa Pendidikan Bimbingan dan Konseling Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Bukittinggi tentang Pengelolaan Kelas yang Ideal dalam Pemberian Layanan BK.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengelolaan Kelas
Kualitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar tergantung pada banyak faktor antara lain jumlah siswa dalam kelas yang merupakan bagian dari pengelolaan kelas.
Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah dan menjadi satu kesatuan yang diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis dalam kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai tujuan.
Sedangkan pengelolaan kelas segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotifasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan. (pengelolaan kelas di Sekolah Dasar, 1993 /1994)
Ada beberapa pandangan tentang makna pengelolaan kelas, yaitu :
1)      Pandangan yang bersifat otoritatif, yang memandang pengelolaan kelas sebagai proses yang bertujuan untuk mengontrol tingkah laku siswa.

2)      Pandangan yang bersifat permisif, yaitu pengelolaan kelas dipandang sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa.

3)      Pandangan yang mengisyaratkan pengelolaan kelas yang dilakukan dengan seperangkat peraturan / norma untuk mendukung pelaksanaan kegiatan mengajar di kelas.

4)      Pandangan yang bersifat psikologi behavioural, yaitu proses pengubahan tingkah laku siswa.

5)      Pandangan psikologi klinis dan konseling, proses penciptaan iklim social emosional yang sehat dan positif.

6)      Group process, didasarkan pada pandangan psikologi social dan dinamika kelompok.


B.     Tujuan Pengelolaan Kelas

Menurut Ahmad (1995:2) bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
4. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
Tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:170) pada hakikatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja.
Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.

C.    Pengelolaan kelas yang efektif

Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar.
Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok adalah contoh-contoh kegiatan mengelola kelas.
Efektifitas pengelolaan kelas merupakan upaya pihak guru untuk menata kehidupan kelas dan melakukan serangkaian usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan, memelihara dan mengatur kondisi yang optimal serta memperbaiki jika terjadi gangguan agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efesien.
Ciri bahwa suatu pengelolaan kelas berjalan efektif antara lain adalah menarik, menantang, mencapai target ( ketercapaian ), relevan dan melibatkan pembelajar sepenuhnya atau dalam bahasa Inggris dikatakan Interesting, Challenging, Achievable, Relevant, Engaging (I C A R E ). Caranya agar proses pembelajaran di kelas menjadi I C A R E, ada  langkah-langkah penting yang harus diperhatikan para guru untuk dapat menciptakan proses pembelajaran yang I C A R E :
1. Ciptakan kelas yang tertib dan nyaman penuh integritas salah satu caranya ialah dengan membuat kesepakatan penting di awal tahun pembelajaran atau awal semester
2. Ciptakan skenario pemberian layanan semenarik mungkin, sesuaikan dengan berbagai aspek yang dimiliki siswa.
3. Mulailah proses pemberian layanan dengan pertanyaan provokasi atau gunakan metode inkuiri dalam proses pemberian layanan yang dapat memunculkan perasaan tertantang pada diri siswa
4. Guru menyampaikan tujuan diberikannya materi layanan kepada siswa sebelum proses pemberian layanan, agar ada kebersamaan dalam upaya pencapaiannya.
5. Agar guru mengetahui relevansi materi layanan dengan kebutuhan siswa, maka guru harus berusaha mengetahui dunia siswa.
6. Ciptakan strategi yang dapat melibatkan siswa sepenuhnya, yang mana belajar bagi siswa adalah merupakan proses menciptakan pengetahuan secara aktif dan bukan menerima informasi secara pasif . Dapat dikatakan bahwa perilaku positif siswa dalam proses layanan akan sangat meningkat jika mereka terlibat dengan kurikulum.

D.    Pengelolaan kelas dalam pemberian layanan BK

M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinya dan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193).
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti sari bahwa bimbingan dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).
Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).
Suatu program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan terselenggara dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskan tujuan pendidikan dasar yakni memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar).
Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno (1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konseling meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok.
Dalam Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling tersirat bahwa suatu sistem layanan bimbingan dan konseling berbasis kompetensi tidak mungkin akan tercipta dan tercapai dengan baik apabila tidak memiliki sistem pengelolaan yang bermutu.
Artinya, hal itu perlu dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Disini peran guru pembimbing dalam mengelola kelas agar siswa dapat memahami isi dari materi layanan yang disampaikan guru pembimbing dalam kelas.

E.     Petingnya komunikasi dalam mengeola kelas

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata communist yang berarti sama makna. Jadi, kalau dua orang yang terlibat dalam komunikasi misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang diperbincangkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan perkataan lain mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Jelas bahwa percakapan kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila kedua-duanya saling mengerti bahasa yang dipergunakan, juga mengerti makna dari yang diperbincangkan.
Akan tetapi, pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasar, dalam arti kata bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena komunikasi tidak hanya informative, yakni agar orang lain mengerti dan tahu tetapi juga persuasif, yaitu orang lain bersedia menerima suatu faham atau keyakinan, melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan dan lain-lain.
Kegiatan untuk membantu siswa merasa diterima oleh guru dan teman sejawatnya:
1. Mencoba membangun hubungan dengan siswa di kelas.
Berdiskusi secara informal dengan siswa tentang topik yang menarik siswa selama dan sesudah membahas materi layanan.
 2. Memantau sikap guru sendiri.
     Selama pembelajaran interaksi dengan siswa di kelas, cobalah secara sadar mengingat harapan-harapan positif.
3. Melaksanakan tata tertib kelas yang positif dan merata.
      Kontak mata dengan setiap siswa di kelas sambil berbicara tataplah siswa secar bergiliran, perhatian harus tertuju ke empat sudut ruangan dan berpindah ke semua bagian ruang kelas.
4. Menanggapi secara positif jawaban atau tugas siswa yang salah atau kurang.
      Hargailah setiap jawaban siswa, berikan pujian atas jawaban yang benar, identifikasi pertanyaan yang dijawab dengan salah.
 5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara koperatif
 6. Meminta siswa mengembangkan strategi agar diterima oleh temannya.
      Hindari mengingatkan siswa tentang hal negatif yang dikerjakannya atau yang terjadi pada mereka.


Kegiatan untuk membantu siswa merasa kelas sebagai tempat yang nyaman dan aman/tertib
1. Senantiasa menggunakan kegiatan ynag melibatkan gerakan fisik,
2. Minat siswa menentukan sendiri standar rasa nyaman dan tertibnya,
3. Memperkenalkan konsep bracketing melupakan masalah dengan memikirkan hal lain,
4. Membangun dan mengkomunikasikan aturan tata tertib dan prosedur kelas,
5. Menetapakan kebijakan yang jelas tentang keselamatan fidik siswa,
6. Waspada terhadap gangguan dendam dan ancaman di dalam atau di luar kelas dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah atau menghentikan tindak pelecehan.

F.     Penanganan peserta didik yang bermasalah

Pembinaan peserta didik dilaksanakan oleh seluruh unsur pendidik yaitu sekolah, orang tua, masyarakat dan pemerintah, dengan mekanisme penanganan sebagai berikut ;
Seorang peserta didik yang melanggar tata tertib ditindak oleh semua dapat guru/petugas lain, guru piket, wali kelas bahkan langsung oleh kepala sekolah. Tindakan tersebut diinformasikan kepada wali kelas yang bersangkutan (dengan menggunakan kartu komunikasi).
Sementara itu guru pembimbing berperan dalam mengetahui sebab-sebab yang melatar belakangi sikap dan tindakan peserta didik tersebut. Dalam hal ini guru pembimbing bertugas membantu menangani masalah peserta didik tersebut dengan meneliti latar belakang tindakan peserta didik melalui serangkaian wawancara dan informasi dari sejumlah sumber data, setelah wali kelas merekomendasikannya.
 
 
 
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Perkembangan kemampuan siswa secara optimal untuk berkreasi, mandiri, bertanggung jawab dan memecahkan masalah merupakan tanggung jawab yang besar dari kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, pemahaman potensi pribadi sangat penting untuk perkembangan siswa sebagai manusia yang utuh. Disamping itu, dalam perkembangannya siswa sering kali menghadapi masalah yang tidak mampu dipecahkan sendiri, sehingga mengganggu keberhasilan belajarnya.
Untuk membantu proses perkembangan pribadi dan mengatasi masalah yang dihadapi sering kali siswa memerluakan bantuan professional. Sekolah harus dapat menyediakan  layanan professional yang dimaksud berupa layanan bimbingan dan koseling, karena sekolah merupakan lingkungan yang terpenting setelah keluarga. Layanan ini dalam batas tertentu dapat dilakukan guru, tetapi jika masalahnya berat diperlukan petugas khusus konselor untuk menanganinya.
Dalam melaksanakan layanan tersebut, konseor tentunya memerlukan pemahaman tentang pengelolaan kelas yang ideal sehingga pemberian materi layanan dapat berjalan dengan lancer dan mencapai tujuan, serta konselor dapat menguasai kelas dengan baik.
B.     Saran
Sebagai seorang guru seharusnya dalam kegiatan belajar mengajar bukan hanya memperhatikan aspek akademisnya saja tetapi juga harus melakukan pendekatan emosional dengan siswa. Salah satu caranya yaitu dengan diadakannya bimbingan dan konseling yang secara tidak langsung akan berhubungan dengan keberhasilan belajar siswa tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar